MisiMisiMisi

  1. Nano-Nano

    Hooahm .. Pagi itu saya bangun. Hal pertama yang saya lakukan adalah, mengucek-ucek mata .. Lalu .. Mencari handpone.

    Tidak ada pesan masuk, yang saya ingat, saat itu tertera dengan jelas log digital 05.46 wib. Sip! Saya harus menyelesaikan banyak tugas hari ini. Kita mulai dari MERUMPUT.

    Srek Srek Srek … ‘aduh’ .. Satu kata yang saya ingat saat tangan sebelah kanan tepatnya di bagian nadi tertusuk sebuah tanaman berduri. Tadinya saya tidak mau menggubris, tapi saat menyadari tangan saya sudah bersimbah darah .. Woo .. I’m panic! Really panic! Ambil handpone … Telpon seorang sahabat yang saya anggap bisa menolong saya. Toloong saya mau mati! Nadi saya mau putuskah ini?!

    Saya menyuci tangan … Darah masih menetes. Saya menangis. Tuhaaan .. saya belum menikah, saya juga ingin merasakan sensasi ijab qabul di hari pernikahan saya, ingin merasakan sensasi malam pertama, aw aw aw .. Pasti menyenangkan. Tapi apa ini? Saya baru 24 tahun .. Pacar aja tidak punya … Please hentikan darah ini. Hentikan! Hentikan!! Hentikaaaan!!! Dan darah berhenti mengalir. cips!

    Saya berbaring di kasur … masih dalam kondisi menangis. Sembari menunggu seseorang yang saya anggap ahli dalam menangani kasus kecil beginian.

    Dua puluh menit. Dia (sebut saja namanya Pasha Ungu), dia datang dengan wajah cemas. Saya bisa merasakannya.

    Dia menyentuh tangan saya. Darah memang sudah berhenti, tapi tangan saya panas (katanya) .. Dia melihat ada duri yang masuk dalam daging saya, padahal saya sama sekali tidak merasakan apa-apa selain nyeri di kepala (malah) .. Dia sentuh tangan saya, dia pencet-pencet, entahlah saya tidak merasakan apa-apa. Saya hanya bisa menangis. Bukan karena kesakitan, tapi karena panik. Pasha Ungu, menyuruh saya untuk tenang. Dia sangat yakin saya tidak apa-apa. Duri dalam daging saya sudah keluar, katanya. Dia lalu menyuapi saya makan dan menyuruh saya minum obat (oh manja sekali saya) .. kemudian dia menyuruh saya tidur sejenak sebelum melakukan aktivitas lain. Dia tahu aktivitas saya banyak sekali. Dia tidak mau saya tergulung-gulung di jalan hanya karena kehilangan kestabilan metabolis.

    Ya ya ya .. saya menurutinya …

    Saya tidur sekitar seperempat jam. Tlliililit Tlilililit Tlililitt … Drrtt Drrrtt Drttt …. Hape saya, alarm saya berbunyi .. Tertulis dengan jelas ‘Go to stadion Sriwedari’ .. Oh Tuhan .. Saya masih mengantuk sekali. Tapi ada urusan lain yang sangat penting untuk saya handle.

    Pukul 09.30 wib … Saya sedang rapat (lebih tepatnya diskusi dalam tajuk Obrolan Pagi) .. Bersama mas Gogor dan mbak Heru … Membahas gedung balai persis yang telah di acc oleh bapak wakil walikota yang saya cinta … Saya bersyukur, tidak ada yang menanyakan apakah saya sudah mandi atau belum .. ==*

    Yes yes yes .. Diskusi berjalan lancar, canda tawa, menceritakan pengalaman masing-masing, waahh .. seru seru seru … Saya dapat teman-teman baru. Menyenangkan. Selintas saya lupa dengan sakit di tangan saya, dan saya lupa bahwa saya belum mandi.

    Setelah saya pamit dari stadion Sriwedari, saya mampir menuju GKS … Saya hanya bertemu seorang teman yang sudah bangun dari tidur, dan satu lagi teman yang masih tergeletak manis di kasur (yang menurut saya, itu adalah dipan. Bukan kasur). Saya menulis beberapa laporan mengenai hasil kerja saya .. Terakhir, laporan itu saya tempel di mading, lalu pulang.

    Saya pulang kemudian .. Skip lah. Saya tidur. Melanjutkan kembali mimpi indah yang sempat tertunda.

    Skip

    Skip

    Skip

    Jam 15.00 wib … Saya sudah rapi. Ya. Sore ini saya harus menjemput mama saya di Bandara Yogya. Dan salah seorang teman saya (sebut saja dia Teuku Wisnu), dia berjanji akan mengantar saya sampai bandara. Saya sudah siap loh.

    Satu jam …

    Dua jam ..

    See, sekarang sudah jam 16.45 … Di luar hujan .. Dan dia belum datang. Saya panik. Saya melihat jadwal kereta api prameks. Hello ..  Sekitar satu jam lagi kereta api akan berangkat. Dan saya sama sekali belum mendapat info dari Teuku Wisnu. Di manakah dia berada oh Teuku Wisnu? Emosi saya mulai menggelinding ..

    Saya mencoba menghubungi taxi. Busy .. Busy … Busy .. oh Lord. tuttt tuutt tuutt … Krriinng “halo, mas saya bisa pesan taksi ke alamat .. bla bla bla … bisa agak cepat?” …. Dan suara diseberang menjawab dengan sangat jelas “Maaf mbak, kalau cepat kita gak bisa. karena taxi sedang kosong. bagaimana?”

    Saya memilih untuk mereject nomor tersebut. Shit! Emosi saya makin menggelinding …

    Sudah pukul 17.32 wib … Saya mencoba menghubungi seorang saudara (sebut saja dia Fitria Tropika). Saya berharap dia berada tidak jauh dari saya dan bisa mengantarkan saya ke stasiun.

    Fitrop : “halo”

    Saya : “Eh kamu di mana?”

    Fitrop : “Di rumah (dan jarak antara rumahnya dengan rumah saya itu sekitar 15 kilometer) .. How come?!

    Telpon langsung saya matikan.

    Dalam hujan akhirnya saya mencoba meleburkan emosi. Saya berteriak di tengah keramain kota yang penuh sliweran orang menghindari hujan … Sedangkan saya nekat hujan-hujanan. Demi sampai bandara tepat pada waktunya. Jam menunjukkan pukul 18.00 wib .. Damn! Kereta delay.

    Okelaah kalo begituuuu!! Okelaaahh! Okeeee!!!

    Hape saya tidak pernah berhenti bergetar. Papah, Mamah, Pasha Ungu, Teuku Wisnu, Fitrop, Teman-teman Temu Komunitas, oh-MGP … berebutan minta diperhatikan .. arrgh! Saya sedang menunggu kereta yang delay. Sedangkan mamah sudah boarding. Sempatkah saya sampai di bandara dalam waktu yang sangat singkat?! Tiba-tiba saya menjadi sangat benci pada Teuku Wisnu. Dia saya anggap sebagai orang yang membuat saya kelimpungan seperti ini. Hate someone of out time!!!

    ________________________________________________________

    18.20 .. kereta datang ..

    _________________________________

    18.38 .. Saya iri pada orang yang berdiri di hadapan saya saat ini. Dia menggunakan headset, sedangkan saya tidak. Saya butuh hiburan … Tadinya saya pikir saya beruntung. Pintu prameks terbuka tepat dihadapan saya. Tapi .. Saya lupa bahwa saya di kelilingi oleh orang-orang yang miskin moralnya. Mereka mendorong saya ke kiri dan ke kanan seenaknya. Hey tubuh saya memang mungil, tapi bukan berarti tubuhmu jauh lebih sexy dengan memperlakukan saya seperti itu. Saya juga tidak berharap banyak bisa dapat tempat duduk. Di saat seperti ini saya lebih suka berdiri.

    Saya melihat pantulan wajah saya di kaca gelap kereta. Pucat. Satu kata yang menggambarkan diri saya saat itu. Ya .. Bagaimana tidak … saya tidak perlu reff cerita mengapa sampai bisa sepucat sekarang ini kan? Baca saja sendiri di atas.

    Buku Akar saya genggam di dada. Sama sekali tidak kondusif untuk dibaca. Uh … Walau penciuman saya buruk, tapi campuran bau keringat di dalam kereta ini membuat saya ingin muntah. Saya tidak ingin jadi benar-benar muntah hanya karena tidak sanggup memahami memetika milik Dee.

    ______________________________________________

    18.39 Nadiku sebelah kanan sakit sekali

    ____________________________________________

    18.42 Mencari kegiatan, meruncingkan pendengaran di setiap sumber suara ..

    • ttttuuuunnnggtiiinnggtuuuuunngggtiinngggggtuuunngg = Suara kereta api saat melewati perlintasan
    • b*9d38u2@1XzYtnShmSwjwoaini = Di samping kiri saya ada orang korea atau jepang atau mandarin .. entahlah ..
    • Assalammualakum = sebelah kanan saya sepertinya ikhwan - saat menerima sambungan telepon
    • wwawawawaccuppccupppuccppkyaakyakyaa yayayayaya = kanan belakang saya ada 2 orang balita sedang berdiskusi
    • Pie? Lha aku urung tekan. Nteni seg yo = Belakang saya persis, Jawa Tulen

    ____________________________________________________

    18.52

    Saya : Ini sampai mana ya, mas?

    Mas ikhwan : Saya juga kurang tahu, mbak

    Mbak akhwat : Ini klaten, mbak

    Saya : Abis ini Maguwo?

    Mbak Akhwat : Iya saya mau turun sana. Mbaknya juga?

    Ternyata kita turun ditempat yang sama. Syukurlah .. Saya dapat teman. Saya anggap ini sebagai keberuntungan besar hari ini.

    _______________________________________________________

    19.01 Kalimat cantik “Manusia harus saling menghardik untuk dimengerti”

    ________________________________________________________

     19.10 Saya sampai Maguwo. Ternyata tidak hanya mbak Akhwat tadi yang menjadi teman saya. Banyak sekali yang turun di stasiun ini .. Ah ….

    Saya berjalan menuju ruang arrive.

    “Mi” …

    Ada yang memanggil saya dengan sebutan khusus. Hew! Spechless! Teuku Wisnu ternyata menunggu saya di Bandara. Dia pucat sekali. Dia menunggu saya. Mau meminta maaf pada saya karena keterlambatannya … di satu sisi saya terharu, tapi tidak bisa ditutupi saya kecewa padanya. Karena janjinya, saya harus terlantar seperti ini .. Ouch! Apa yang harus saya lakukan .. Tuhan, dia meminta maaf. Haruskah saya menolak maafnya hanya karena keegoisan saya yang terlanjur menggelinding bersama tema Emosi?!

    Tapi dia ke yogya, ke bandara, menunggu saya, meminta maaf dan menjelaskan semuanya pada saya .. Huh! Saya sebal dia melakukan hal ini. Saya masih ingin berlama-lama marah padanya. Bahkan saya sudah memasukkannya dalam status twitter saya .. “What a fuck!” .. Haruskah saya jilat menjadi kata “Forgiveness” ..

    Oh!

    19.18 mama landing. diiringi pamitnya Teuku Wisnu .. Ya .. Saya memaafkan dia. Tidak ada moment paling membahagiakan selain bertemu dengan mama … Jadi saya tidak mau merusaknya dengan keegoisan emosi saya .. Cukuplah untuk hari ini ..

    ______________________________________________________

    Saya dan mama bercerita panjang lebar .. Mengenai aktivitas saya, kondisi kesehatan keluarga besar di solo, sampai membahas mantan saya … Kemana-mana …

    Gantian mama yang cerita …

    Mama terlihat lelah sekali, tapi mengapa tak bisa berhenti bersuara. Seperti mendapat teman baru yang sudah mengerti lika liku hidupnya, mama menceritakan semua pengalamannya selama enam bulan terakhir ini (selepas saya tidak bertemu dengannya) ..

    Oh mama … Ini sudah pukul 00.05 wib .. Tidurlah .. Pergunakanlah kasur saya untuk mama bisa pulas terlelap. Saya pun akan tidur di ruang yang sama walau harus di lantai .. lebih nyaman begini, dibanding saya yang harus pindah ke kamar mamah …

    Miss u mamah …

    Walau mamah sempat marah karena melihat urat nadi tangan kanan saya membengkak, tak apalah .. Saya sudah lama sekali tidak di marahi (tentunya selepas memperoleh SKL skripsi) ..

    I Love u mama …

    Btw .. Nope! kita lupa foto-foto tadi di Bandara ..

    ^^

    Nite world!



  2.    

Quantcast