MisiMisiMisi

  1. “Merupakan sebuah keindahan, jika kita melihat dari kehendak Tuhan”
    Life

  2.    

  3. Trimester Pertama

    3 bulan 6 hari, masa pernikahan. Dan Tuhan melengkapinya dengan kehadiran janin kecil berusia masuk 10 minggu di rahim ini. Subhanallah …

    Bukan hal yang mudah ternyata menjalani hari seperti ini. Berawal dari niat ingin menunda punya momongan dulu karena masih ingin menikmati bulan madu (seperti artis-artis pada umumnya), tapi ada rasa ketakutan Tuhan akan marah karena aku disamaratakan dengan orang yang menunda rezeki. Jujur, takut.

    “Jangan mendikte, Allah. Jangan meniatkan diri untuk menunda seolah kamu terlalu yakin Allah benar-benar tidak akan menundanya kelak. Allah lebih tau kapan kamu siap kok. Pasangan yang merasa lebih siap saja belum tentu dikasih, eh kamu malah pengen menunda. Iya kalo kamu dikasih, kalo enggak”

    Jeddeerrr!!
    Seperti teguran dari Tuhan, lewat suara kakak sepupuku.

    At least … aku dan suami mantap untuk tidak menunda. Mengingat usiaku pun, sudah cukup senja. Hoho …

    Beberapa minggu kemudian, tepatnya di bulan kedua pernikahan, aku telat datang bulan. Setelah dicek, alhamdulillah … aku dan suamiku mendapatkan rezeki itu. Dipercaya untuk menjaga rahim ini, karena ada titipan Tuhan di sini. Aku bahagia sekali, juga waswas …

    Sekarang sudah masuk sekitar minggu ke 10. Rasanya berkecamuk sekali …
    Fisik dan Psikis, seperti tak terkendali perkembangannya. Secara Fisik, berat badanku merosot drastis. Dan secara Psikis, emosiku justru meningkat tak menentu. Seperti grafik naik turun yang tak pernah bisa dipredisi frekuensi intervalnya.

    Melihat nasi, aku seperti melihat muntahanku sendiri. Melihat sayur lauk pauk, aku seperti dipaksa menelan sebotol minyak jelantah. Melihat roti, aku seperti melihat kapuk berserat penuh rongga rumah kutu. Bahkan melihat air putih, aku seperti melihat mikrobakteri berenang-renang disana.

    Ah! Menyedihkan.

    Sehari-hari, yang bisa aku lihat dengan baik hanyalah cairan madu, gelindingan buah kurma, es sirup, teh hangat, merahnya dinding apel, kentang rebus, dan … tubuh suamiku.

    Beruntungnya, aku memiliki suami yang tak pernah marah saat aku tak menghargai pembeliannya, saat aku mengeluh karena kurma yang ia beli bukan yang dibungkus plastik kiloan melainkan di packaging dengan plastik berbarcode, saat aku lebih suka tidur di lantai daripada di kasur.

    Beruntungnya, aku memiliki suami yang sangat mensupportku. Di saat lelah karena kerja dan kuliahnya, ia tidak pernah bilang tidak saat aku ingin makan apa. Ia berusaha mencarikan, dan tak pernah jera walau kadang aku tidak memakannya. Di waktu selanya, justru ia yang membaca buku tentang kehamilan. Lalu kemudian mengecup keningku, seolah ia tau apa yang sedang aku rasakan.

    Aku di support oleh keluargaku, sahabat-sahabatku, orang-orang yang dekat denganku … Dan harusnya aku bisa melalui ini semua dengan baik.

    Aku dan suamiku pun telah menyiapkan nama untuk bakal calon anak kami ini :)

    Bismillahirrahmanirrahim
    Semoga Allah SWT senantiasa menurunkan berkah-Nya untuk kami.

    Chitra&Davidson - (si kecil)

    ^^



  4.    

  5. Hijau yang tak pernah membosankan

    "Mau honeymoon kemana, sayang? Yogya atau Tawangmangu?"

    David, mantan pacarku, yang sekarang aku lafazkan sebagai suamiku, memintaku memilih. Andaikata ada pilihan yang lebih spektakuler gitu .. Bali atau Balikpapan

    :p

    Sore mendung yang tidak jadi hujan. Bersyukur sekali, perjalanan ini dilindungi. Suamiku, membawaku dalam nuansa yang bisa dijamah alurnya … Ia mengendarai motor kotor yang belum dicuci sebulan, dengan sebaik-baiknya laju. Sehingga angin sore tidak terlalu bisa menaklukan kudukku menuju ruang dingin bernama Tawangmangu.

    Semakin ke atas, semakin gelap. Tapi tidak demikian dengan retinaku yang terus sibuk melihat sudut sana dan sudut sini. Dari setiap kelonggaran alas, aku melihat kerlipan cahaya memendar. Apa ini namanya jika bukan seperti berlian di perhentangan bumi.

    Lampu - lampu berwarna warni saling beradu menumpuk jadi satu mempercantik perjalananku dan suamiku. Indah sekali. Ini ciptaan Tuhan lewat tangan manusia, walau efeknya juga cukup luar biasa … Global Warming …

    >__<

    Belum cukup larut, tapi kami tidak berani melanjutkan perjalanan menuju atas lagi. Akhirnya kami memilih untuk berteduh di sebuah peraduan bernama ‘Pondok Sari 2’ .. Entah yang 1 ada di mana, yang jelas Pondok ini nyaman sekali untuk beberapa jam kedepan dihuni. 

    image

    Cukup murah dengan fasilitas Single big bed, Kamar mandi dalam, Air hangat, Tv, dentis, shower shop, Handuk, Selimut, Welcoming Tea, Breakfast, dan .. Tempat Sampah.

    Setelah menjalani ibadah malam, aku mengganti kaos lengan panjang dengan lingerie ungu pemberian suamiku … Hmmm … Satu kecupan mendarat mesra di kening, pipi, dan bibir .. Perlahan ia membuka .. *sebagian text terpotong*

    Haha … Menikah itu ibadah, kawan. Tuhan memberi nikmat melalui jalan yang baik, pergunakanlah dengan sebaik - baiknya

    :D

    Hari sudah pagi.

    Tak ada ayam berkokok, sebagai gantinya, cicit burung terdengar tak menentu, samar, antara masih terbawa kantuk dan tergerutuk hawa dingin yang sangat menyengat.

    Setelah membereskan diri, aku dan suamiku melanjutkan perjalanan menuju Sarangan. 

    Pinus …

    Bunga kumis kucing …

    Edelweis …

    Kabut …

    Dingin …

    Pentolan Bakso …

    Mie Instan Rebus …

    Jagung rebus …

    Teh Panas ….

    Kopi Panas …

    Menjadi panorama dalam perjalanan ini.

    Menuju Sarangan adalah hal yang cukup menyenangkan dan menegangkan. Untuk aku yang pernah mengalami trauma karena duluu sekali hampir kehilangan nyawa di tempat ini, punya sisi menegangkannya sendiri. Ku peluk erat suamiku dalam gasnya menuju perbukitan, resahku perlahan terkaburkan.

    image

    Sesampainya di Sarangan, tercium bau segar danau dengan backsound mesin boats.

    Sliweran boats membuat segalanya terasa seperti di Bali iya, Balikpapan juga iya … di Bali seperti Bedugul, di Balikpapan seperti Pelabuhan Mayang. Mantap! Nice Honeymoon! 

    :*

    image

    Puas mengelilingi danau dengan Boats seharga 30k itu, aku dan suamiku siap berbelanja mendatangi tiap lapak yang menjual banyak baju, tas, pengrajin, dan oleh - oleh …

    "Ini berapa bu?"

    "Oh kaos itu harganya 50 ribu mbak."

    "Boleh kurang, bu?"

    "Boleh, ya jadi 47 ribu lah mbak,"

    "Kalo 40 ribu dapat 2 boleh ga bu? Sepasang?"

    "Ya sudah ambil aja,"

    Halaaahh .. Dari 50 ribu per pcs, bisanya jadi 40 rb dapat 2 pcs. Jangan - jangan bisa lebih murah lagi kali yaa …

    -_-“

    "Mbaak .. Tunggu!!!"

    Tiba - tiba seorang pria memanggilku cukup keras.

    "Eh iya pak, ada apaa ya?"

    "Tadi naik boats, ada yang ketinggalan ndak?"

    "Ehm apa ya? Sebentar .."

    Aku mulai mengecek tas. HP ada, Dompet ada, Slayer ada, Tisu ada.

    "Kayaknya ga ada deh pak," Sahutku tidak yakin.

    "Ini mbak, ketinggalan. Terjatuh kayaknya," dan bapak itu memberikanku dua benda ..

    BUKU NIKAH

    "Astagaaa!! Buku nikahku!"

    Aku langsung menarik buku itu antara terkejut dan senang. Apa jadinya kalau buku itu sampai hilang. Suamiku pun memandangku antara ingin marah dan lega. Buku kami terselamatkan, padahal bisa saja buku itu kini raib tertelan lautan.

    "Pak, makasih ya pak, trimakasih banyak. Maafkan kelalaian saya," Aku rasanya ingin menangis. Andaikata muhrim, udah aku peluk itu bapak, untuk meyakinkan bahwa aku benar - benar terharu diberi kebaikan oleh bapak itu.

    "Iya mbak, gapapa. Lain kali hati - hati ya."

    Suamiku menjabat tangan si bapak, dan memberinya sendikit imbalan, namun bapak itu tulus menolong, menolak imbalan dari suamiku.

    Baiknya …

    "Maafkan keteledoranku, sayang, suamikuu …"

    :( :( :( :( :(

    Perjalanan berlanjut ..

    Suamiku berusaha membuat banyolan agar aku menipiskan ketegangan.

    "Sayang, sini aku aja yang jaga bukunya. Aku akan jaga seumur hidup aku,"

    Kalimat itu makin membuatku cemas. Khawatir membuat kesalahan fatal lagi, walau aku tidak pernah bermaksud menghilangkannya … Ah! Andaikata buku itu benar - benar hilang, ini akan menjadi pengalaman terburukku selain aku hampir pernah kehilangan nyawa di tempat ini.

    "Maafkan aku, sayang," Ucapku lirih.

    Suamiku memelukku erat.

    "Yuk, have fun lagi. Beli oleh - oleh yuk …"

    Senyumku mengembang kembali ..

    :):):):):):)

    Bakso, Durian, Daster .. Terbeli dengan penuh perjuangan menawar ..

    Pengennya beli sayur - sayuran, karena sayuran di kota ini segar - segaaaar … Langsung diambil dari hasil panen. Seperti baru keluar dari kulkas. Segar dan dingin.

    image

    :D:D:D

    Setelah puas berjalan - jalan, akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke panasnya kota Solo … 

    Tak rela melepas kesenangan hari itu, perlahan mulai kupakai jaket dan slayer serta helm . Mengisyaratkan bahwa aku akan bertolak berbalik meninggalkan hawa dingin di kota Sarangan dan Tawangmangu …

    Kapan lagi aku ada waktu ke kota ini? Tunggu sajalah .. Mungkin suatu saat, Quality Time with my Little Family. Bersama buah hati pelengkap kebahagiaan .. Amin ..

    Tunggu aku ya :D

    …….. ^ ^ …………….

    Sebelum sampai di rumah, mampir duluuu ..

    di Putri Duyung Karanganyar.

    image

    1/2 kg Bawal Bakar : Rp.21.000

    1/2 kg Lele Goreng : Rp.16.500

    1 Nasi Ceting Kecil : Rp.14.000

    1 Lalapan + Sambel : Rp.5.500

    1 Teh Hangat : Rp.2.500

    1 Aqua Botol : Rp.3.000

    TOTAL : Rp.62.500

    Mahal gak sih Tuips??

    _-_” #jungkirbalik

    Touchdown Solo, Touchdown Homieee ..

    Capeeek tapi senang .. 

    "Bobo yuk yang," Ajak suamiku genit ..

    \(^o^)//



  6.    

  7. Panas

    Aku menulis di saat semuanya memanas
    Tidak lebih diriku sendiripun, kepanasan

    Adakah penyejuk yang mungkin saja tersesat di ruangan ini?

    Jangankan penyejuk, udara pun menghindar untuk dihirup.

    Bagaimana cara agar aku bisa melaporkannya pada Tuhan?



  8.    

Quantcast