MisiMisiMisi

  1. Hijau yang tak pernah membosankan

    “Mau honeymoon kemana, sayang? Yogya atau Tawangmangu?”

    David, mantan pacarku, yang sekarang aku lafazkan sebagai suamiku, memintaku memilih. Andaikata ada pilihan yang lebih spektakuler gitu .. Bali atau Balikpapan

    :p

    Sore mendung yang tidak jadi hujan. Bersyukur sekali, perjalanan ini dilindungi. Suamiku, membawaku dalam nuansa yang bisa dijamah alurnya … Ia mengendarai motor kotor yang belum dicuci sebulan, dengan sebaik-baiknya laju. Sehingga angin sore tidak terlalu bisa menaklukan kudukku menuju ruang dingin bernama Tawangmangu.

    Semakin ke atas, semakin gelap. Tapi tidak demikian dengan retinaku yang terus sibuk melihat sudut sana dan sudut sini. Dari setiap kelonggaran alas, aku melihat kerlipan cahaya memendar. Apa ini namanya jika bukan seperti berlian di perhentangan bumi.

    Lampu - lampu berwarna warni saling beradu menumpuk jadi satu mempercantik perjalananku dan suamiku. Indah sekali. Ini ciptaan Tuhan lewat tangan manusia, walau efeknya juga cukup luar biasa … Global Warming …

    >__<

    Belum cukup larut, tapi kami tidak berani melanjutkan perjalanan menuju atas lagi. Akhirnya kami memilih untuk berteduh di sebuah peraduan bernama ‘Pondok Sari 2’ .. Entah yang 1 ada di mana, yang jelas Pondok ini nyaman sekali untuk beberapa jam kedepan dihuni. 

    image

    Cukup murah dengan fasilitas Single big bed, Kamar mandi dalam, Air hangat, Tv, dentis, shower shop, Handuk, Selimut, Welcoming Tea, Breakfast, dan .. Tempat Sampah.

    Setelah menjalani ibadah malam, aku mengganti kaos lengan panjang dengan lingerie ungu pemberian suamiku … Hmmm … Satu kecupan mendarat mesra di kening, pipi, dan bibir .. Perlahan ia membuka .. *sebagian text terpotong*

    Haha … Menikah itu ibadah, kawan. Tuhan memberi nikmat melalui jalan yang baik, pergunakanlah dengan sebaik - baiknya

    :D

    Hari sudah pagi.

    Tak ada ayam berkokok, sebagai gantinya, cicit burung terdengar tak menentu, samar, antara masih terbawa kantuk dan tergerutuk hawa dingin yang sangat menyengat.

    Setelah membereskan diri, aku dan suamiku melanjutkan perjalanan menuju Sarangan. 

    Pinus …

    Bunga kumis kucing …

    Edelweis …

    Kabut …

    Dingin …

    Pentolan Bakso …

    Mie Instan Rebus …

    Jagung rebus …

    Teh Panas ….

    Kopi Panas …

    Menjadi panorama dalam perjalanan ini.

    Menuju Sarangan adalah hal yang cukup menyenangkan dan menegangkan. Untuk aku yang pernah mengalami trauma karena duluu sekali hampir kehilangan nyawa di tempat ini, punya sisi menegangkannya sendiri. Ku peluk erat suamiku dalam gasnya menuju perbukitan, resahku perlahan terkaburkan.

    image

    Sesampainya di Sarangan, tercium bau segar danau dengan backsound mesin boats.

    Sliweran boats membuat segalanya terasa seperti di Bali iya, Balikpapan juga iya … di Bali seperti Bedugul, di Balikpapan seperti Pelabuhan Mayang. Mantap! Nice Honeymoon! 

    :*

    image

    Puas mengelilingi danau dengan Boats seharga 30k itu, aku dan suamiku siap berbelanja mendatangi tiap lapak yang menjual banyak baju, tas, pengrajin, dan oleh - oleh …

    “Ini berapa bu?”

    “Oh kaos itu harganya 50 ribu mbak.”

    “Boleh kurang, bu?”

    “Boleh, ya jadi 47 ribu lah mbak,”

    “Kalo 40 ribu dapat 2 boleh ga bu? Sepasang?”

    “Ya sudah ambil aja,”

    Halaaahh .. Dari 50 ribu per pcs, bisanya jadi 40 rb dapat 2 pcs. Jangan - jangan bisa lebih murah lagi kali yaa …

    -_-“

    “Mbaak .. Tunggu!!!”

    Tiba - tiba seorang pria memanggilku cukup keras.

    “Eh iya pak, ada apaa ya?”

    “Tadi naik boats, ada yang ketinggalan ndak?”

    “Ehm apa ya? Sebentar ..”

    Aku mulai mengecek tas. HP ada, Dompet ada, Slayer ada, Tisu ada.

    “Kayaknya ga ada deh pak,” Sahutku tidak yakin.

    “Ini mbak, ketinggalan. Terjatuh kayaknya,” dan bapak itu memberikanku dua benda ..

    BUKU NIKAH

    “Astagaaa!! Buku nikahku!”

    Aku langsung menarik buku itu antara terkejut dan senang. Apa jadinya kalau buku itu sampai hilang. Suamiku pun memandangku antara ingin marah dan lega. Buku kami terselamatkan, padahal bisa saja buku itu kini raib tertelan lautan.

    “Pak, makasih ya pak, trimakasih banyak. Maafkan kelalaian saya,” Aku rasanya ingin menangis. Andaikata muhrim, udah aku peluk itu bapak, untuk meyakinkan bahwa aku benar - benar terharu diberi kebaikan oleh bapak itu.

    “Iya mbak, gapapa. Lain kali hati - hati ya.”

    Suamiku menjabat tangan si bapak, dan memberinya sendikit imbalan, namun bapak itu tulus menolong, menolak imbalan dari suamiku.

    Baiknya …

    “Maafkan keteledoranku, sayang, suamikuu …”

    :( :( :( :( :(

    Perjalanan berlanjut ..

    Suamiku berusaha membuat banyolan agar aku menipiskan ketegangan.

    “Sayang, sini aku aja yang jaga bukunya. Aku akan jaga seumur hidup aku,”

    Kalimat itu makin membuatku cemas. Khawatir membuat kesalahan fatal lagi, walau aku tidak pernah bermaksud menghilangkannya … Ah! Andaikata buku itu benar - benar hilang, ini akan menjadi pengalaman terburukku selain aku hampir pernah kehilangan nyawa di tempat ini.

    “Maafkan aku, sayang,” Ucapku lirih.

    Suamiku memelukku erat.

    “Yuk, have fun lagi. Beli oleh - oleh yuk …”

    Senyumku mengembang kembali ..

    :):):):):):)

    Bakso, Durian, Daster .. Terbeli dengan penuh perjuangan menawar ..

    Pengennya beli sayur - sayuran, karena sayuran di kota ini segar - segaaaar … Langsung diambil dari hasil panen. Seperti baru keluar dari kulkas. Segar dan dingin.

    image

    :D:D:D

    Setelah puas berjalan - jalan, akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke panasnya kota Solo … 

    Tak rela melepas kesenangan hari itu, perlahan mulai kupakai jaket dan slayer serta helm . Mengisyaratkan bahwa aku akan bertolak berbalik meninggalkan hawa dingin di kota Sarangan dan Tawangmangu …

    Kapan lagi aku ada waktu ke kota ini? Tunggu sajalah .. Mungkin suatu saat, Quality Time with my Little Family. Bersama buah hati pelengkap kebahagiaan .. Amin ..

    Tunggu aku ya :D

    …….. ^ ^ …………….

    Sebelum sampai di rumah, mampir duluuu ..

    di Putri Duyung Karanganyar.

    image

    1/2 kg Bawal Bakar : Rp.21.000

    1/2 kg Lele Goreng : Rp.16.500

    1 Nasi Ceting Kecil : Rp.14.000

    1 Lalapan + Sambel : Rp.5.500

    1 Teh Hangat : Rp.2.500

    1 Aqua Botol : Rp.3.000

    TOTAL : Rp.62.500

    Mahal gak sih Tuips??

    _-_” #jungkirbalik

    Touchdown Solo, Touchdown Homieee ..

    Capeeek tapi senang .. 

    “Bobo yuk yang,” Ajak suamiku genit ..

    \(^o^)//



  2.    

  3. Panas

    Aku menulis di saat semuanya memanas
    Tidak lebih diriku sendiripun, kepanasan

    Adakah penyejuk yang mungkin saja tersesat di ruangan ini?

    Jangankan penyejuk, udara pun menghindar untuk dihirup.

    Bagaimana cara agar aku bisa melaporkannya pada Tuhan?



  4.    

  5. My Final Step on a Long Journey

    2012

    Berselang waktu, aku merasa hati ini sedang sangat diperhatikan. Dengan sangat sigap, Vid masuk. Aku mulai merasakan ada yang berbeda. Ada ruang - ruang gelisah yang sudah lama tidak aku rasakan

    ^__^

    6 April 2012

    Jari kelingking kami saling mengikat satu sama lain

    ^__^

    3 Agustus 2012

    Chitra : “Kamu sudah memelukku hampir setengah jam”

    Vid : “Belum cukup. Aku ingin selamanya”

    ^__^

    September 2012

    Vid : “Aku tidak sanggup, bukan berarti aku menyerah”

    ^__^

    Oktober 2012

    Pantai Klayar

    Vid : “Aku sayang kamu. Selamat ulang tahun, cinta. Doaku, kita bisa nikah dan hidup bersama selamanya”

    ^__^

    Januari 2013

    Chitra : “Tahun baru, sayang. Aku berharap tahun ini bisa menikah … Dan itu sama kamu.”

    Vid : “Pasti,”

    ^__^

    Februari 2013

    Vid : “Ha min delapan, sayang. Seperti mimpi. Bisa memilikimu seutuhnya, bagiku seperti mimpi yang sangat … Indah … Kamu menyempurnakan hidupku

    ^__^

    Chitra & Davidson, are waiting for March 3, 2013

    image

    by : Laddydav



  6.    

  7. “Cita-cita kuterbangkan, untuk aku raih kembali saat aku sudah besar”

    Tereteretteeeettteteereeeeteettttt !!

    Oh, Beib! Alarm berbunyi menghentak, mengingatkanku untuk segera berbenah diri.

    Pukul 8 pagi, Gelora Taxi siap membawaku menuju sebuah alamat, lengkap dengan denah. 

    “Depan hotel Sunan ada Lokananta, samping Lokananta ada sop pak No. Nah samping sop pak No ada SD. Kita akan mengajar di SD itu”

    Begitulah bunyi sms mengenai denah SD yang harus aku tuju.

    “KELAS INSPIRASI 2 KOTA SOLO”

    Gedung ini dari depan seperti gedung tak bertuan. Sepi. Kosong. Tak ada suara. Tanahnya penuh lemah , terdominasi oleh serpihan semen yang tak terawat. Pecah - pecah, dan gerimis membuatnya agak sedikit becek.

    SD Negeri Dukuhan Kerten

    Perlahan aku memasuki gedung itu, mencari celah yang paling nyaman untuk highheelsku menapak langkah. Perlahan makin mendekat, aku mulai mendengar teriakan, jeritan, suara-suara crescendo bervolume desible full, mengisyaratkan bahwa banyak jiwa kecil di sana. Diiringi suara matang Messo Sopran berbenturan dengan Bariton, membuncahkan vocab baru untuk pelajaran tiap kelas di gedung SD Marginal.

    Ya, aku berada di sini untuk mendengarkan keceriaan jiwa - jiwa kecil penghuni gedung dukuh ini, dalam rangka menggebrak program Kelas Inspirasi penerjemah arti motivasi.

    20 Februari 2013

    Program Kelas Inspirasi ini diadakan serentak di 6 kota di Indonesia, menjadi program milik Indonesia Mengajar, yang dibagi secara cuma - cuma di 137 Sekolah Dasar Marginal kota Jakarta, Surabaya, Bandung, Pekanbaru, Yogyakarta, dan kotaku Solo dengan jumlah Profesi-Sosial sebanyak 1064 peserta.

    Mereka (Para Pengajar Profesional, yang aku anggap sebagai Profesi-Sosial ini) terjun secara cuma-cuma. Benar-benar secara cuma-cuma. Merelakan 6 jam mereka untuk menyapa anak - anak.

    Mereka yang selalu hidup dipenuhi dengan inventory, sales, bisnis, meeting, hangover, kini berjibaku dalam tema panggilan hati untuk mengajar. 

    Mereka diminta untuk mengajar sesuai profesi. Dokter, Designer, Pramugari, Public Relation, Banker, Arsitek, Direktur, Dosen, Program Director, Penyiar, IT, mereka semua harus menyampaikan materi sesuai profesi masing - masing, kepada anak - anak sekolah dasar. Ya! Anak - anak, Sekolah dasar … Marginal.

    Mereka ditantang untuk bisa menginspirasi para anak - anak didik, untuk bisa menyampaikan pesan bahwa cita - cita itu bisa sangat tinggi. Bahwa tidak hanya sebatas menjadi dokter ataupun insinyur. Anak - anak didik bisa menjadi apapun yang mereka inginkan. Bahkan mereka bisa menjadi seniman ataupun pengusaha. Semua bisa mereka raih.

    Mereka disodorkan kelas yang berbeda tiap jamnya. Dari kelas 1 sampai kelas 6. Di mana usia anak didik berbeda di setiap kelasnya. Pemikiran anak didik bisa tak teraih kedalamannya. Dan karakter anak didik yang unik di setiap responnya. Itulah yang harus disentuh oleh para pendidik pada hari itu.

    “Siapaaaa yang mau ketemuu pak Presiden?”

    “Akuu akuuu akkkuuuuu”

    “Kalo mau ketemu dengan pak presiden, kalian harus rajin belajar. Harus jadi anak pintar. Suatu saat kalian akan diundang oleh pak Presiden untuk bertemu langsung dengan beliau. karena pak presiden suka dengan anak yang cerdas.”

    “Maaaauuuu buuuu gurruuu. Aku mau ketemu pak presiden. Aku jugaa mau ketemu Cakra Khaann sama Coboy Junior, buuuuu”

    - eh -

    Unik. Mereka terlalu unik dan memaksakan diri menyatu dengan jaman. Tak ada pembatas yang signifikan untuk membuat mereka bisa memilah rasio. Mereka menyuarakan apa yang mereka tahu, bukan yang mereka harus merdekakan.

    - istirahat -

    “Mbaak, anak - anak kelas 2B ya ampuun bikin stress coba. Belum apa - apa mereka udah minta pulang. Bingung saya,”

    “Kalo anak kelas 1B, mas, mereka aktif - aktif sekali. Setiap saya tanya apa gitu pasti pada rebutan jawab. Wah seru sekali.”

    “Di kelas 5 bu, ada yang nangis tadi. Rebutan pensil. Astagaa.”

    “Capek yaa ternyataa. Bisa kurus saya. Untung cuma sehari. Ini aja keringetan terus saya harus teriak - teriak, padahal saya lagi radang. Tapi seru. Seru banget. Besok ada kelas inspirasi 3, saya harus ikut lagi. Hahaha”

    Demikian komentar - komentar pengajar profesi-sosial.

    Mereka menyuarakan kenangan saat mengajar. Diliputi kecemasan menghadapi anak - anak didik, mereka tak mengurangi antusias untuk kembali ke kelas. Walau bercucur keringat, tak membuat mereka menyesal telah meninggalkan ruang rapat di kantor setempat.

    “Gimana ya rasanya jadi guru? Mereka setiap hari bertemu dengan anak - anak ini. Apa tidak jenuh? Apa tidak capek bertahun - tahun menghadapi karakter anak yang cenderung tidak abstraktif?’

    “Ya inilah yang membuat saya terharu akan jasa guru. Mereka mengajar dan mendidik anak - anak tanpa kenal lelah. Mungkin sistemnya saja yang perlu diperbaharui, mungkin para guru jangan terlalu fokus pada pelajaran eksakta, tapi juga pada hal - hal yang anak - anak butuhkan. Seperti pendidikan moril, pendidikan yang tidak mereka biasa dapatkan, seperti sekarang ini, kita mengajarkan profesi yang berbeda. Ya seperti itulah ..”

    “Iya setuju, mbak. Tapi bagaimana caranya? Kita mengajar sehari saja sudah loyo gini. Adakah kesempatan lagi untuk kita bertemu dengan anak - anak, mengingatkan mereka bahwa mereka terlalu berharga. Bahwa mereka .. hmm mereka sebenarnya itu bisa dan layak mendapatkan kemerdekaan meraih cita - cita. Kita sibuk kerja kan mba, alamat susah untuk melakukan pergerakan ini,”

    “Pasti bisa pak. Pasti ada ruang. Ruang untuk kita bisa merangkul anak - anak itu dan mendidik mereka menjadi apa yang mereka sukseskan,”

    - Denting terakhir -

    “Adek - adeeekk .. Yuk tulis cita - cita kalian di kertas yang sudah bapak dan ibu kasih. Kalian mau jadi apa sajaa, ditulis yaaa. Lalu tempel di balon gas ini. Okeeeee?!”

    “Okeeeee paaaakkkkkk,”

    - Dan mereka pun menulis -

    Dokter

          Disainer

                 Wartawan

                         Pendeta

                                Pengusaha

                                         Insinyur

                                                Peramugari

                                                        Koki

                                                             Artis

                                                                   Presiden

                                                                          Polisi

    “Tuhaan yang Maha Baik, cita cita ku, ku tulis di atas kertas kecil ini. Kutempelkan pada balon gas yang akan membawanya terbang. Aku berharap cita citaku sampai di rumah Tuhan supaya Tuhan bisa baca dan menurunkannya kembali menjadi kenyataan, dan akhirnya aku bisa meraih cita cita itu setelah aku besar nanti. Kabulkan doa ku ya Tuhan. Amin Amin Amin,”

    Suara kecil mereka sangat riang dan penuh percaya diri tergema di udara. Mereka sangat yakin, Tuhan akan benar - benar membaca surat kecil berisi cita cita mereka.

    Inspired by Indonesia Mengajar & Solo Mengajar

    Thanks to

    Founder Solo Mengajar » Hanny Setiawan

    All Fasilitator » Dhedi Aries, Yunianto Puspowardoyo, Gentur Yoga, Didik Kartika, Retno Wulandari, Emi Yuniawati, Nicky Olivia, Gus Solah, Teguh Heri, Yanuar Rahman

    All Committee » Helmy Yulia, Catarina, Nurul Ummatun, Yeni Dwi, Enggar Nafida, Dewi Sri, Anita Yuly Astanti, Auliya Rahma, Erna Jati, Apriliana, Citra Hapsari, Deka I Djakarta, Puput, Lia, Retno Denok, Ayik, Marissa, Hesti Widya, Meutia Megah, William, Rezim, Udin, Idun, and all of …

    All Marginal Primary School » Madyataman, Munggung, Serengan, Mojosongo, Kerten, Sawahan, Kawatan, Gulon, Bibis Wetan

    “Mari merdekakan cita - cita mereka .. Suatu saat merekalah pengganti kita .. Semuanya berawal dari hati kita, untuk menyentuh seluruh prestasi mereka ..”

    Its not over, Its just a beginning.

    image



  8.    2 notes

Quantcast